Sepuluh Menit Lalu

sepuluh menit lalu, bidadara. aku baru saja menyeka tawa, menyimpannya lagi di kelenjar mata. sebab ada yang sempat jatuh di sela gelakku, berdenyut-denyut hangat. tak ada yang bisa kutanya itu apa, desir daun-daun melagu dengkur, angin-angin lepur, goyangan rumput pun, bersama hentak-glamor yang mengangguk telah berbaur. ini memang tengah malam, dan kantungmataku kian hitam seharian menampung ketimpangan.

denyut-denyut itu kian memerah, bidadara. aku takut ia pecah lalu menyemburat ilat, gelimpangan hasrat, pula kebodohan yang menggeliat. barangkali memang aku perlu kau, bidadara. bulu-bulu matamu dapat jelma menjadi kelir yang menyulap gerah jadi semilir, atau mewarna bolamatamu sendiri menjadi safir. kali-kali saja bisa kau kuas denyut-denyut itu jadi biru, jadi haru, jadi setenang desir randu.

bidadara, di mimpi saja, kunanti kau menjawabnya. denyut-denyut itu kusimpan di balik bantalku, di bawah kepalaku --yang sarat rela.
semoga saja
semoga
kedatanganmu --bidadara ialah setekuk kabar
denyut-denyut itu ialah rindu yang
selalu ada

seperti biasa


==
Malang 2010
Andi M E Wirambara
READ MORE - Sepuluh Menit Lalu

Sang Merak

kokoh sayap menggetar dindingdinding langit
menggelora pekik meredup warna pelangi
sang Merak gagah bertengger
mewarna corak-corak hari

oh!
sang Merak kini benar ke langit
menjejak rona muda perkasa
wasiatkan kobaran hidup,
kian membara

padamu sang Merak
bertunduk kami bersalam doa
niatkan kukuh meminjam helai bulumu
untuk rangkai sayapsayap kami
ikuti mekar sayapmu

hingga kau tersenyum
dan pinta kami mengadah corakcorak sayapmu
cerahkan semesta

================
Palangkaraya, 06 agustus 2009
Tribute to W.S.Rendra
READ MORE - Sang Merak

Kau Akan Tahu

pada saatnya, kau akan tahu jika aku rindu
jarum jam ragu-ragu menggeser diri
tak lagi tak, tak lagi tik
pelan menada diri seperti pianis
yang begitu ahli mencumbu ritmis

jika rindu mengendap, teh di gelasku lindap
pahit tak sekedar merayap pada kerongkongan
yang kering, merindui kerling seperti rindu suling
pada sawah-sawah kuning sementara bening
teh di gelasku kian dingin
menagih seruputan, namun masih pahit
maka kukeluarkan wajah manismu yang masih
kusimpan di dadaku, lalu celupkannya
pada genang teh di gelasku itu

dan kau akan tahu ketika aku rindu
serupa kubangan seusai hujan
tabah tak lagi menyilakan
sebuah enggan
READ MORE - Kau Akan Tahu

Matahari Terlampau Tenggelam

senja, lagi-lagi terlelap telah
lepas, ganjal sesayat mata
mengabur rintik yang
tak sengaja menitik
tiada tahu ombak
hendak menangkup
menengadah waktu di sela
celah terumbu yang kesepian
berkisah betapa hidup
tak sekedar berpura mengusap
mata yang terlilip debu-debu

anemon, alunan gitar plankton
meritual buih, bersaksi atas
matahari yang letih,
tergelincir begitu jauh
begitu tenggelam hingga nanti
senja terbangun
waktu dan seterbit kisah
begitu sepi sudah

--

malang, 02102010

Andi M E Wirambara
READ MORE - Matahari Terlampau Tenggelam

Batang Padi di Kue Ulang Tahunku

/1/
aku ingin batang padi di atas kue ulang tahunku
sebab aku keturunan Adam yang dicipta
dari tanah. tanah hidupkan padi, lahirkan beras
lalu nasi. bukan lilin yang menyala. sebab aku
takut api, siap renggut keringat dan jiwa
yang sudah diminyaki

tiba-tiba aku jadi tanah. ditumbuhi ilalang, tempat hidup
ular dan belalang, dicangkuli pun rerumput ditebas
lepuh tangan seorang yang hak asasinya sendiri tak
ia tahu jelas

/2/
undang-undang nomor lima tahun
sembilanbelas enampuluh jadi payung
hukum agraris. payung hukum tanah untuk dikais
tapi aku masih berpayung talas. begitupun padi
di atas kepalaku terus saja memelas. takut kotor
oleh mendung yang mungkin saja guyurkan
impor

/3/
aku tak lagi jadi tanah. tapi tetap saja kue ulang tahunku
ditumbuhi lilin, bukan padi yang kuminta dari tadi
namun kutiup saja, sembari berdoa. memohon menadah
harap meneduh kesah. agar apapun, terus tabah seperti
kata pepatah;

bagai ilmu padi,
makin berisi makin

diuji





--

Malang, 24 September 2010

Hari Lahirku dan Hari Tani (Hari jadi Undang-Undang Pokok Agraria)
READ MORE - Batang Padi di Kue Ulang Tahunku

Setelah Ini, Aku Mengantuk

setelah ini, aku akan mengantuk
buku-buku mengantuk. tinta mengantuk
bangku, meja, dan lantai terasa
begitu empuk. menyumpal gumam efisiensi
teori yang kian lapuk

setelah ini, kata-kata adalah bom
waktu. diselotipkan pada aku yang
mengantuk. dan proyektor akan
memutarkan materi. menayangkan
kasus panas dalam negeri. menayang
aku yang ternyata tengah
sibuk mendengkuri sakit hati pada
hilangnya hak asasi

setelah ini, biar kutuntas segala
kantuk. mengemasnya dalam
peluru. menempelnya di kepala
terantuk

menarik pelatuk.


--
Malang, 21092010
Andi M E Wirambara
READ MORE - Setelah Ini, Aku Mengantuk

Wajahmu Terpampang di Gedung Seberang

kau muncul lagi, kali ini wajahmu
terpampang di gedung seberang
ada senyum yang jadi pemandangan
mataku dari lantai delapan
meredup deret lampu jalan
yang biasa menyapa lalu lalang
tiap deru pertemuan

hanya malam tak punya pelangi yang bisa
melengkung menjadi jembatan tempatku
menjejaki harapan, lintasi seangan sapa
tanpa menyebrang turun lewati kemacetan
kota dan debu yang memerih mata

rindu kian rebah, seperti malam yang pula
telah lelah membagi lamunan
dan utuh wajahmu berubah serpih berlompatan
ke pijar lain, bersembunyi dari pagi yang mulai
ringkih kembali

tak ada serpihmu yang begitu jauh
terpisah untuk kukumpulkan satu-satu
dan menempelkannya lagi
di gedung seberang
merekatinya dengan rindu
yang sudah berkali melekati

hati
READ MORE - Wajahmu Terpampang di Gedung Seberang