Ombak Rindu (Haimu)

senyummu laut
lapang menyusut senja
di pelupukku

pun rindu mengombak pelan, menghanyut perlahan


READ MORE - Ombak Rindu (Haimu)

APEL

entah rindu apa kau punya
hingga kau bawa aku pada
wangi embun yang sejuk dan
ranum?

betapapun senyummu kuingat pada
kabutkabut tipis tatkala embun perlahan
turun dan singgah
anggun di kulit apel yang basah

sebagaimana aku terkenang
sayupmu di antara dahan pohon yang tenang

dan aku, menanti
kau temui pun lembut kau petik
apel yang kugelantungkan bersama sebalas
rindu, apel wangi rindu



READ MORE - APEL

Sah?

saya terima nikahnya
jelita yang telah sedia menyimpan
titipan pelangi yang kukalung pada
manis jemari kiri menanda janji
sehidup
semati

dengan mas kawin
seperangkat pisau, gunting, dan pemotong daging
pula gerinda, gergaji, dan palu besi
kelak, kami gunakan untuk meranggas
memusnah bintik hingga ombakan lara
yang mencoba mematah menyelip usik
coba buat ingkar sucinya janji

pada pendar mimpi arakan semesta dan padu tetes waktu
pada pelupuk kisah mewadah teduh iringan hari

saya terima nikahnya
di hadap Tuhan yang hadir
sebagai saksi aksara yang lahir
dari sehujan doa yang mengalir

atas nama hati yang terajut satu demi satu
menuju bahtera menyambut salam sepasang janur
lengkungi bentangan anak tangga untuk kami
: sanggup menjejaki

sah?


====
Malang, 220510
Andi M E wirambara
READ MORE - Sah?

Pentalogi Jatuh Hati

: teruntukmu kembali, berkali membelai hati

1/
kupikir aku jauh lebih bisa
perhatikan banyak simpulsimpul
pita yang melekati rambutmu
daripada kubaca laku
anak perempuan yang
menyiap tikar dan alat masak
menimang boneka dan
memainkan jemari pada bibir
boneka yang ia bilang adalah
anaknya meski selalu
masih ia tanya
" siapa ayahmu, nak? "

2/
mungkin seperti syair sapardi. dimana memang aku menghendakmu sederhana apa yang adanya. tiada perlu menyoal kau asmirandah, sophia latjuba, pun magdalena atau seleb wanita yang tinggal condongkan dada, lulus satu syaratnya ikut pilkada.

sebab justru tiada satu
mampu meniru kau
pemilik mata yang terus saja
genangi mataku
dengan rindu


3/
kemarin, entah kemarin kemarinnya lagi. aku baca berita soal satukomadelapan trilyun untuk gedung mereka yang bertitel wakil dari segala rakyat yang katanya miring tujuh derajat. hingga buat tiga derajat milik pisa, menelan ludahnya.

aku jadi hendak tahu, tentang seberapa miring sudah otakku. kala pikirkanmu sejak embun belum pecah, hingga malam menyisa nafasnya. dan tiada hari tanpa itu?

4/
mungkin aku perlu berbahagia telah temui kau yang semula, kukira bidadari. sebab sementara tak perlu kucari sesungguh yang disebut bidadari, dengan meledak tubuh. pun andai tak kulakukan itu, mungkin telah kau lihat mayatku melambai tangan di atas tandu. dari televisi dan korankoran dunia.

5/
dan kututuplah dahulu segala
peristiwa baku yang membatas aku
rajutkanmu balut romansa
yang biasa lahir dari jemari
kusebut puisi

serupa kau
tiada sadar mencipta
senyum liontin yang lingkari
jenjang hati



=====
Malang, 15052010
Andi M E Wirambara
READ MORE - Pentalogi Jatuh Hati

Kembali, Rindu

: Selyna

entah rindu apa
yang turun kala kubaca
lariklarik hujan yang tiba
dan menggelayut di pelupuk senja?

sementara terus aku benamkan
rerintih pilu yang menjuntai
di balik rintik yang menitik
pula senyum buta yang menyerta
hendak sembunyikanmu pada
lipatanlipatan air mata

namun tiada suatu mampu
mengusik aku yang terlanjur telah
tersenyum, berlalu di antara desir pepohonan
ialah menemuimu
rindu, yang berserakan di bawahnya

hingga rautmu perlahan
padaku menyisa baitbait lamunan
hingga turut malam menuntun
untuk saling jemari kita berpeluk santun

kau,
aku



==
Malang, 04052010
Andi M E Wirambara
READ MORE - Kembali, Rindu

Surat Cinta yang Entah Romantis Pun Tidak yang Tiada Pernah Tersampai

Surat ini teruntuk(mu):
Sang bidadari / dewi / malaikat / permaisuri / pelita / jelita / cahaya / pujaan / ataupun putri yang tengah melamun sendiri pun tengah dalam dekap serigala / buaya / gurita / dedemit, dan sebangsanya. Terserahlah tersebut apa dirimu, jelas tiada sanggup mengkias puisi yang tersusun menjadi indahmu. Dan tiada keluhku, bagimu.


Aku hendak bercerita, sebuihnya!

Mungkin saja aku baru sekaliduakali saja mencicipkan suaramu pada daun telingaku. Namun tiada sekonyong berlalu sendu. Aku mengemas bulir suaramu ke dalam kotak hati, biarkan menggema-gema di sana. Hingga ada rindu yang terpantul, menyirat syairmu yang syahdu.

Kau yang begitu mampu meneduh gerahku akan rindu,
Andai aku begitu ahli menyulap kayu menjadi lemari. Maka akan kubuatkan satu untukmu, yang pada pintunya terukir sepasang merpati. Di mana kuselipkan namamu pada helai sayap mereka. Pun dalam lemari itu hanya kusimpan guci raksasa berisi suaraku, yang tiap bangun tidurku, kuteriakkan rindu di dalamnya.

Ketika aku memandangmu di balik jeruji jendelajendela kelas, dengan latar suara mono dari pengajar yang membuncah teorema kependudukan, politik kotor pun anarkisme di ranah bhinneka tunggal ika, yang kubayangkan adalah bagaimana aku mengkoalisikan aparatur hati yang kewalahan, hendak menghadang demonstran yang berontak memaksa untuk sekedar menyapa senyummu di belalak mataku.

Sudah jelas kau tiada pernah tahu, pun mengerti tentang saat pertama aku mulai memperhatikanmu dimulai dari mata, senyum dan seluruhmu yang tampak dari berbagai sudut proyeksi, sudut pandang ataupun menerkamu dengan limpahan metoda. Mulai dari teorika, doktrin, asas kebiasaan, norma-norma, pun penafsiran selayak aku meruak lembarlembar filsafat yang tersaji di rak-rak hati. Di mana ada ensiklopedi khusus tentangmu.

hanya kau perlu sadar
bahwa aku ingat sekali kapan
kau mulai membiusku
dari udara yang sama
yang kita hirup berjauhan


Sementara kau sibuk membaca titian kata yang menggenang di kelopak tanyamu, maka sesungguhnya tiada mungkin sanggup kau artikan satupersatu. Sebab akupun tengah menyalinmu dalam sebuah puisi di atas kertas putih bergaris, di daundaun hijau, di permukaan air kolam, ataupun di antara jaringjaring maya yang dibatasi bandwitch, problem koneksi, limit pakai, pulsa, ataupun billing warnet. Semua barang tentu serumit yang kau bayang yang bahkan tak guna kau pikirkan.

sebab cukup kau beri aku
tatap matamu yang dalam
terakumulasikan dengan senyum
yang khusus kau tuju
padaku
terjatuhlah segala lembar yang kutulis
ke lantai rasa
yang kau jejakkan di hatiku


Jika saja runtut waktu terbiasa mengeja, siapa saja yang tengah terpana oleh kau yang tengah diam saja, melamun lugu, maka ia akan meletak mataku di urutan teratas pada grafik yang menjulang dari kiri bawah ke kanan atas. Selayak deret perbandingan pencemaran udara tiap tahunnya, pun pencukuran hutan tanpa berwawasan lingkungan. Hingga begitu sulit, untuk manusia memenuhi sejuk alveolinya dengan udara segar. Dan paruparuku, mungkin tiada lagi merasa timbunan debu maupun asap kendaraan di sana, sebab aku menghirup bayangmu yang senantiasa menyejukku.

Kucukupkan dahulu,
Sesungguhnya hendak kukirimkan ini, menanda aku begitu mudahnya jatuh cinta pada fananya bola mata. Kau tentu.

Sekian dariku

*
pojok hati, hari ini bulan ini tahun ini
di bawah rintikan rindu yang tak kau tahu

tertanda dariku:

Pemilik jari manis tangan kirimu nanti




=====
Malang, 01052010
Andi M E Wirambara
READ MORE - Surat Cinta yang Entah Romantis Pun Tidak yang Tiada Pernah Tersampai

Memoar

pohon asam
aku ingat bagaimana aku
merayu pujaan yang mula fajar
kunanti sejak setengahenam pagi
pun embun masih
senggamai dedaunmu

kau perlu tahu, mungkin
ia tiada lagi sama
selayak kuhapal nadi
gemerisikmu
tetes nafasnya berbeda telah
sejak lenyap jejakku
dipelupuknya

dan andai, helai daunmu mampu menyela
air mata
maka kuderaskanlah milikku
yang tak kujumpa tadahnya
:menitik, mengalur

hingga terpuas aku
kembali menjejak rindu di
bawah rimbunmu, saksikan
angin yang berpesan
tentang nelangsa pada daun rapuh
seanggun dandelion yang perlahan
lepas

membawa serta senyumku, jauh
ke tempat pujaanku kelak
membaca gores puisi yang lekat
pada pusara
dan ia
mengeja namaku di sana

.

---
Palangkaraya, 240410
Andi M E Wirambara
READ MORE - Memoar