Tabung

ia pontang-panting lari
mengabar istri, anak, mertua
mengumpul tabung yang dipunya
tabung bak selebriti
buat gaduh koran sana-sini, berita televisi pula
artikel majalah dewasa

ia kumpulkan tabung-tabung di halaman
tabung seberat anak sulungnya yang setahun
sudah mati kurang gizi
ia jejer segitiga dan paling berkarat
diletak paling muka
lalu ia gelindingkan logam-logam
bertuliskan rupiah berkilap-kilap

menghambur tabung
menghambur mata kantung

usai itu duduklah ia pada
helm motornya yang berlabel SNI
yang anti pecah, anti retak dan diharap
anti ledak pun sudah dipasangi selang
maka lepaslah angin dari perutnya
terkurung meronta dalam botol

"Cepat! Nyalakan kompor!"

--
Malang, 25072010
Andi M E Wirambara


READ MORE - Tabung

Di Antara hujan Lalu


Sebenarnya tak perlu kubuat Fla tersinggung hingga ia pergi ke halte yang tepat di depan pusat perbelanjaan ini, lagipula hari ini ulang tahunnya. Seharusnya tak perlu Fla memalingkan wajah tak acuh padaku, sambil entah apa yang ia tatap ke arah jalan raya yang ramai.

Kesalahanku memang, semula aku memang ingin menemaninya berbelanja, sambil menanti kabar dari rumah Fla. Ya, aku dan temanku yang lain ingin membuat acara kejutan untuknya, orang tuanya pun turut serta. Dan ketika kabar itu datang, aku ingin segera mengajaknya pulang. Hanya aku tak tahu kalau aku mengganggu kesenangannya sedang di sisi lain aku tak sabar ingin melihat ekspresinya saat acara kejutan nanti.

“ Sumpah, aku bosan. “

Aku tak sadar kalimat yang keluar dari mulutku sekitar 15 menit lalu itu justru menyinggungnya. Ia langsung menyudahi kegiatannya dan tanpa kata, ia ke halte tempat kami berada kini. Aku sendiri memainkan amplop kecil di jemariku, amplop berisi puisi yang akan kuberi di acara kejutannya nanti. Aku diam, bingung.

“Zi, kalau menurutmu aku sudah banyak nyita waktu kamu, maaf ya. Kalau kamu sibuk nggak apa-apa kok kamu langsung pulang, aku bisa pulang naik taksi.” Mendadak Fla dengan lembut membuyar sel-sel otakku yang tengah menghambur isi kepala untuk bisa membujuknya.

Fla memang seperti itu, tuturnya lembut menggulung-gulung amarah yang meriak perasaannya sehingga jarang sekali menyinggung siapa saja sekalipun ia tidak suka. Dan itu salah satu sikapnya yang paling kusuka bahkan sebelum ia membalas pernyataan perasaanku lebih setaun lalu. Dan mungkin karena sikapnya tersebut, aku tak tahu kalau aku begitu sering membuatnya kesal. Sebab ia sangat jarang merajuk dan jarang meminta kalau bukan aku yang menawarkan padanya. Terserah hanya di depanku atau terhadap siapapun, yang jelas aku seorang bodoh sampai melepas gadis yang satu ini.

****

Kupikir Fla menunggu sesuatu dariku, entah ucapan maaf atau lainnya. Sebab sudah berapa lama kami di sini, ia tak pula menghentikan bus atau taksi yang beberapa kali lewat. Orang-orang sekitar kami yang juga menunggu kendaraan umum di halte ini sudah berkali-kali berganti. Ia hanya menyandarkan diri di bangku halte, sambil memangku dagu dengan arah mata yang masih terbang entah ke mana. Bodohnya, aku pula masih diam terlalu banyak yang kupikirkan, terlalu berhati-hati. Aku tak mau ambil resiko sekalipun ia begitu santun, kesalahanku bicara akan buatnya membenciku.

Titik-titik air mulai muncul, buat aspal abu-abu di jalan menampakkan butir yang menghitamkan jalan, angin menjadi lebih dingin. Gerimis datang, makin cepat makin menampak wangi hujan yang khas. Orang–orang berhambur, masuk ke bus, angkutan kota, atau taksi sambil menutup kepala dengan tas atau punggung tangan.

Aku melirik Fla, wajahnya masih datar, murung tepatnya, dan sesekali membetulkan posisi duduk yang mungkin sebelumnya kurang nyaman untuknya. Hanya aku baru sadar, Fla duduk menjauh dariku. Sementara halte makin dipenuhi mereka yang berteduh dan perlahan bangku di sampingku mulai diduduki orang lain, seolah memberi tembok antara aku dan Fla.

Hujan bertambah deras, aku melirik Fla lagi, ia tetap nampak manis. Kali ini aku merasa betapa hujan begitu lekat pada romansa. Banyak syair, puisi, dan sajak cinta yang membawa hujan pada rinai kata. Termasuk kisah, setelah melihat Fla aku teringat perjalanan hatiku sejak dahulu.

****

Kalau cinta monyet termasuk dalam hitungan kisah hati, maka aku bisa memastikan kapan pertama kali aku jatuh cinta. Kelas 2 SD! (Tanpa sadar bibirku menyunggingkan senyum). Aku mengingat-ingat siapa sebenarnya cinta pertamaku dulu. Apakah Diana, anak perempuan termanis di kelasku, bahkan mungkin aku yang pertama kali menyadarinya sebelum anak laki-laki lain peduli pada ketertarikan dengan lawan jenis. Yang satu lagi adalah Dina, hanya berbeda satu huruf dari Diana. Rumahnya tak jauh dari rumahku, sering bermain bersama temanku yang lain ketika sore hari tiba.

Namun kusebut saja Diana cinta pertamaku, sebab rasaku lebih kuat padanya. Aku menutup mulut menahan geli agar tak dilihat orang di halte termasuk Fla. Sebab bagaimana bisa aku sok bicara cinta sementara sinetron saat itu adalah Si Doel Anak Sekolahan dan Keluarga Cemara, atau acara yang kuserap adalah kuis-kuis dan kartun tiap hari minggu? Yang jelas, aku tertarik melanjutkan lamunanku.

Kamu kok nggak piket? Ku bilangin Bu Guru nanti.”

“Tukang ngadu! Huu...!!”

“Biarin! Kubilangin! Wee..!”

“Awas kamu berani ngadu-ngadu..”

“Emang kenapa? Mau mukul? Mukul perempuan?”

Percakapan seperti itu sering sekali terjadi di tiap selasa pagi, dimana jadwal piket kelas jatuh padaku, Diana, serta beberapa lainnya. Diana rajin sekali tiba pagi-pagi dan langsung menyapu kelas, sementara aku hanya datang langsung duduk diam dan memandang Diana dengan bedak di pipinya. Rambutnya yang terurai sebahu turun sedikit tersisir rapi dan jepit rambut kupu-kupunya membuatnya lebih manis. Kupikir ibunya telaten sekali merawat anaknya ini.

Kesamaan Diana dengan Fla adalah matanya yang lembut, aku langsung ingat bagaimana aku baru mau bergerak piket jika Diana sudah menatapku sambil mengerinyitkan alisnya. Atau saat Diana hendak menangis jika aku mengejeknya “jelek” dan ia mengejar-ngejarku sementara teman-teman lain menyoraki kami. Sementara aku tertawa saja ketika suatu saat tertangkap dan ia mencubitku bahkan hingga mataku memerah. Dalam hati aku berseru: “Inikah namanya... Cinta !?”

****

Pekak hujan masih berbaur di antara orang-orang yang memangku tangan di halte ini, aku sendiri akhirnya menangkap Fla melirik ke arahku. Hanya saja ia langsung memalingkan wajah dan murung lagi. Entah apa yang ia pikirkan, dan ia duduk di ujung bangku sambil sesekali mengelap dengan tisu, percik-percik hujan yang jatuh ke tas yang ia pangku. Aku tetap bingung, namun lamunanku pada Diana belum berhenti.

Yang paling ku ingat dari Diana, adalah ketika hujan. Hujan begitu deras dan kami terjebak di perpustakaan. Saat itu kami sudah kelas 3 SD, dan kami masih harus menanti orang tua kami menjemput. Petir menyambar, guru menyuruh kami jangan keluar hingga hujan reda. Sialnya, malariaku kambuh. Aku menggigil, tubuhku panas, wajahku memutih pucat, gemertak gigi seolah menambah dentum pening di kepala, aku ambruk di meja perpustakaan. Guruku yang menyadarinya langsung berlari di tengah hujan dengan payungnya mencari obat-obatan.

Diana di sampingku, berkali-kali memastikan suhu tubuhku dengan punggung tangannya yang mungil, tangan kanannya menempel di keningku, dan yang kiri ia tempelkan di keningnya, terkadang ia tempelkan pada dinding atau botol air minumnya.

“Sabar ya Ozi, ini biar panasmu turun.”

Suara dari bibir mungilnya masih belum mampu membuatku berhenti menggigil dan wajahnya makin kabur dari pandangan. Tapi sayup aku mendengar ia sesekali mengisak, menahan tangis. Sesaat aku sadar bahwa matanya berkaca-kaca.

Ozi... kenapa..?? Ozi ! BU GURU! BU GURU!”

Ia panik, melepas jaket putihnya dan memakaikannya padaku, ia memelukku, hangat. Entah tak lama, aku sudah berada di rumah. Kepalaku masih pusing dan ditempeli kompres, dan guruku ada di sana bersama orang tuaku. Berceritalah bahwa aku dan Diana akhirnya sama-sama tertidur di perpustakaan.

Aku melirik lagi pada Fla, seolah menyirat lembut hati Diana yang sepantasnya kubalas lebih. Seperti Fla yang hampir tak pernah menampakkan sedikit pun sikap kasar padaku. Dan mungkin sepantasnya kulakukan untuk berterima kasih pada Diana yang tak sempat kuucap. Begitulah, Diana pindah kota ketika aku sembuh dan masuk sekolah lagi. Sepi.

****

Selang seminggu perginya Diana, hatiku terpaut pada anak baru pindahan bernama Pipit. Sikapnya lebih kalem dan pipinya menggemaskan, ia begitu cantik dan segera saja bocah-bocah ingusan –termasuk aku- menjadi anak baik di depannya untuk mencari perhatian. Dan tak disangka, langsung tertera rangking 1 di bagi rapor pertamanya. Menggeser juara kelas sebelumnya –yang juga anak pindahan- bernama Septiani. Ia juga cantik namun lebih sering diganggu anak paling nakal di kelas, Septian. Entah bagaimana kemiripan nama itu membuat mereka begitu identik, kalau Septiani menangis, pelakunya pasti Septian.

Pipit duduk di bangku di depanku, ia duduk sebangku dengan Fikri yang juga temanku –yang juga mencari perhatian Pipit- sampai begitu akrab. Aku iri, geram, kadang menggigit ujung pensilku, terlebih saat Pipit dengan sabar mengajari Fikri soal pelajaran. Kupikir saat itulah aku merasakan cemburu pertama kali. Tak jauh beda rasanya dengan cemburuku saat aku melihat sainganku untuk mendapatkan Fla dahulu dengan kedekatan yang amat sangat hingga menumbuh tanduk setan di atas kepalaku.

Aku dan teman sekelasku selalu membahas Pipit jika mengobrol. Topik Pipit selalu berada di 5 besar di antara obrolan kartun, mainan, jajanan, atau siapa yang patut dimusuhi, siapa yang dikawani. Pernah suatu ketika kami berdebat bahwa Pipit adalah perempuan misterius. Ketika pelajaran olahraga, ia cepat sekali berlari tanpa kami sadar. Fikri mengatakan Pipit itu punya selendang bak bidadari yang bisa teleport (kemampuan berpindah tempat sekejap mata), dan langsung saja kami menyorakinya bahwa ia menyukai Pipit. Fikri malu dan menarik kata-katanya, menyerahkan kesimpulan akhir siapa Pipit pada kami. Aku sendiri mengatakan Pipit manusia biasa yang punya keturunan cyborg.

****

Bus datang lagi, beberapa orang di halte berebutan naik segera agar tidak basah oleh hujan. Termasuk orang yang duduk di sampingku, hingga tak ada orang lagi yang menghalangi dudukku dengan Fla. Kusadari kami sudah terlalu lama di halte ini, dalam diam, terkurung hujan yang tak kunjung menanda akan reda. Lamunanku pun sudah begitu jauh, meski masih tentang Pipit.


Kisahku identik sekali dengan hujan. Sebab kembali, hujan turun menahanku dan Pipit di sekolah. Pipit menangis, ketakutan mendengar petir yang menggelegar. Di sela isaknya, ia bercerita dahulu sewaktu hujan seperti ini dia pernah melihat hujan dari jendela belakang rumahnya. Dengan rumah tepat di depan sawah, ia melihat orang yang melewati jalan setapak di sawah berlari menghindari hujan. Tak terduga, ia melihat bencana yang seharusnya tak terjadi di depan matanya. Yaitu petir menyambar orang-orang yang berlarian tersebut hingga tubuh mereka gosong, entah selamat atau tidak, Pipit tak menceritakannya padaku.

Aku yang takjub sekaligus takut mencoba menghiburnya, aku berpesan yang penting kalau di tengah hujan pakai payung atau jangan berada di lapangan yang luas tanpa pohon. Ia masih terisak dan waktu berlalu hingga hujan reda. Esoknya, pagiku di sekolah di sambut senyumnya yang menawan, terang-terangan ia berkata akulah teman terbaiknya, mampu mengusir rasa takutnya. Kuyakin Fikri dan lainnya bakal mengolok-olokku nanti sebagai tanda rasa iri mereka.

...

Aku tak sempat berpamit pada Pipit, aku pindah sekolah sekaligus pindah kota sewaktu kelas 4 SD. Ternyata hujan masih mengekor kisahku. Di sini aku mengenal Rini, menyukainya, dimana pertama kalinya aku berani mengirimkan surat cinta –tepatnya surat kaleng- tanpa nama. Dan kali ini hujan mengerjaiku, sebab Rini membacanya saat hujan turun. Dan tak disangka langit-langit di atas bangkunya bocor, air menetes dan melunturkan tulisanku tanpa sempat ia selamatkan. Mungkin hingga kini Rini takkan pernah tahu siapa yang begitu romantis mengirimkannya surat cinta.

Kesialan dari hujan terjadi lagi kala aku tertarik pada Linda di kelas 5 SD, hanya tak mungkin lagi aku mengharap balasan perasaannya ketika hujan memaksa kami sekelas bermain bola di kelas pada jam istirahat. Cerobohku, kupecahkan kacamatanya, dan ia langsung membenciku sebenci-bencinya.

****

Aku tak lagi memperhatikan waktu, berapa lama sudah hujan deras ini mengurung aku, Fla, dan mereka yang juga di halte yang sama denganku kali ini. Aku juga tak mengerti apakah Fla sangat bosan di sini, wajahnya masih sama sejak ia kesal padaku tadi. Sesekali Fla mengusap kulit di kedua tangannya yang bersih macam perempuan Jepang itu. Apakah aku kehilangan perhatian? Ia hanya menggunakan baju kaos dan aku tahu ia kedinginan, tapi aku justru masih beku? Pertanyaan ini mengalir bersama keinginanku melanjutkan lamunan yang kupikir mulai buatku candu.

Seingatku tak ada hujan yang berhubungan dengan kesan hati bocah sepertiku di kelas 6 SD, mungkin hujan bosan, atau mungkin pensiun. Hanya saja daya tarikku mulai semakin dijelaskan saat itu. Sebab aku menjadi idola, bisa terhitung mereka yang bergantian menyatakan perasaan mereka padaku. Dan seingatku pula, tak ada satu dari mereka yang kuterima. Ah, aku bahkan tidak mau mengingat-ingat apa alasanku pada mereka.

Aku melirik Fla kembali, kali ini di tangannya memegang kertas kecil yang dilipat-lipat. Hanya digenggamnya, dan aku tak tahu itu apa. Akupun merasa lamunanku kehilangan gairahnya, mungkin kecamuk bimbangku mulai nampak lagi ke permukaan pikiranku sekarang.

....

Jauh sebelum bersama Fla sekarang, aku akhirnya berpacaran untuk pertama kalinya ketika SMP. Hanya aku dan beberapa teman yang tahu, orang tua tentu jangan sampai tahu. Adalah Liana, yang membuatku menambat status untuk pertama kalinya. Dan hujan kembali menjabat tangannya padaku, di bawah pondok pinggir sungai di tengah hujan yang terdorong angin hingga hujan seperti jatuh secara miring ke muka sungai yang berombak-ombak. Saat itulah Liana setuju untuk menjalani kisah monyet itu.

Aku tak lagi bersama Liana di bangku SMA, dan seorang bernama Farah mengisi kosong hatiku saat itu. Dan hujan yang tak konsisten menjadi latar belakang momentum berpisahnya aku dan Farah, terlebih saat aku memeluk gunungan tanah yang menimbunnya di pemakaman. Aku menangis tak henti bersama hujan meng-kuyup-kan aku yang juga mengumpat entah kecelakaan apa yang merenggut kekasihku itu untuk selamanya.

****

Perginya Farah beriku murung yang panjang, betapa keadaanku serba salah dan tak tahu harus bagaimana. Bergantian orang menghiburku yang kehilangan, hingga akhirnya perlahan aku bisa kembali pada hati yang mulai bisa menerima kenyataan.

Ingatanku pada Farah membuat dadaku bergetar hebat, kali ini aku memandangi Fla. Jika gejala trauma muncul padaku, maka aku mulai ketakutan bagaimana kalau aku kehilangan gadis seperti Fla? Sementara di ujung bangku halte ini Fla sudah membuka kertas di tangannya yang terlipat sebelumnya.

Fla hadir di hidupku setelah aku melewati kisah yang juga diiringi hujan. Seorang yang aku rasa sudah tahap aku -berani mengatakan- mencintainya, justru menjadi yang seumur-umur pertama kalinya menolakku. Tepat di bawah hujan, tepat di sela rinainya. Dan Fla muncul ketika kami berada di universitas yang sama, seolah menutup sakit hatiku yang panjang mendera.

....

Secarik kertas itu Fla tatap dengan serius, sekilas memang ada tulisan di sana. Jarak dudukku dengan Fla sekarang belum cukup untukku bisa mengintip tulisan apa di sana. Hanya mendadak Fla menutup mulut dengan tangannya sendiri, ia sedikit melirikku dengan tatapan yang sayu, aku ingat kapan terakhir kali Fla menyorotiku dengan mata seperti itu.

Suau hari, aku yang cukup dekat dengan Fla berada tak jauh dari kejadian dimana Fla bertengkar hebat dengan kekasih –sekarang mantan- nya. Lelaki itu begitu bodoh menduakan seorang Fla, Fla tak bisa menerima itu dan suatu perdebatan panjang di taman sepi sudut kampusku (mungkin lebih tepatnya orang menjauh dari sana melihat pertengkaran tersebut), hingga akhirnya mereka resmi putus. Fla menatapku sejenak, air matanya turun, ia menghampiriku, memelukku. Dan hujan pun turun. Kejadian itu adalah penanda akulah yang akhirnya menggantikan lelakinya yang payah itu.

****

Hujan sudah nampak mengurangi curahnya, orang-orang di halte satu-persatu pergi meninggalkan halte ini. Langit masih gelap dan pelit-pelit menurunkan rintiknya, garis air nampak membekas di sela mata Fla. Dia menangis? Aku terkejut, bingung, panik. Ada apa? Sedang ia masih sambil memegang carik kertas tersebut. Apa yang sebenarnya ia pikirkan sejak tadi? Apakah sepertiku yang melamunkan masa lalu? Dan ia sampai pada ingatannya tentang sakit hatinya dulu? Atau ia tengah memikirkan kata untuk berpisah denganku? Ah, jangan sampai..

Tiba-tiba saja Fla menoleh ringan padaku, ia tersenyum, aku melongo. Senyumnya masih beriring ketika ia mulai membuka bibirnya meski matanya masih nampak berkaca.

“Ozi..” Fla bicara padaku!

“Maaf ya Fla.. aku minta maaf yang tadi..“ ujarku sedikit menunduk.

“Kamu segitunya diamkan aku di sini dari tadi, aku bisa mati bosan.” Celaka! Benar, ia menungguku bicara sejak tadi.

“Aku bener-bener minta maaf Fla...” aku memelas.

“Harusnya aku sadar kalau kamu begini sejak dulu.” Ujarnya sambil tersenyum.

Kalimat terakhirnya mengejutkanku, ia membaca ekspresiku tersebut. Ia mengipaskan carik kertas yang ia baca sejak tadi di depan mataku.

Ini punya kamu, kan? Tadi jatuh pas kamu diam. Melamun ya? Tampangmu polos banget dari tadi.” Lanjutnya lagi sambil menggodaku.

Aku akhirnya benar-benar paham, kertas itu dia ambil dari amplop yang kumainkan di jemariku di awal tadi. Lamunan panjangku buat tak sadar amplop itu terjatuh ke dekat Fla dan ia memunguti dan membaca kertas di dalamnya. Kertas berisi puisi, yang sengaja kubuat sekaligus mengingatnya akan kenang yang juga baru-baru saja kusadar. Tentang dirinya di antara hujan lalu. Dan ia pun ingat itu.

---

DI ANTARA HUJAN LALU


Katakan, Fla! Apa yang kau ingat

dibalik rumpun hujan yang menyapa

perpustakaan sekolah kita?


Fla, ketika mulai rindu padamu aku

dengan tangan di bawah dagu mencuil waktu

tidak untuk ke belakang, tak pula ke depan

namun ke antah berantah yang kucipta sendiri dan

kita sebagai penghuninya

nikmati panorama yang bisa

kuganti sesuka hati


Fla, di sana akulah skenario yang mengatur

kalimat hingga segala gerakmu

pada sebuah berantah, dimana

selamanya definisi cinta hanya ada satu

terselip di jaket putih mungilmu dahulu


; Kisah kau dan aku.


Teruntukmu, kekasih

Fladiana Tiara

----


Aku memeluk Fla, memeluknya erat. Tak peduli siapa yang melihat dan membicarakan kami di halte ini, aku masih memeluknya. Hangat. Seperti hangat yang ia beri padaku di perpustakaan dahulu, di antara hujan yang mengait kisahku sejak lalu. Ya, Fla adalah yang pertama, masih yang pertama.


Hujan kembali turun....

READ MORE - Di Antara hujan Lalu

Tentang Kartu dan Rindu






















ada lembar kartu yang
lekat di kecupmu
apakah itu rindu? bernilai seperti mata dadu
namun sisinya tutup-menipu waktu

dan kau bersitatap menantangku mainkannya
hingga berkali pagi datang renggut rindu yang kupunya


sempat kau katakan padaku tentang betapa letih
sejak lalu menumpuk-numpuk lirih di jemari
dan kau minta aku mengaduk dan membaginya lagi
lalu kita bermain sebagai lawan
saling bertaruh airmata yang usang
pun siapapun pemenang pantas untuk
diberi pelupuk yang sedia menyimpan kenang
gamang rindu selalu mencipta genang

namun aku lebih mau
mengurungmu di dalam kartu
lebih dari alasan agar kau tak pergi
agar kau masih ada di bawah bantalku tiap pagi
dan biarkanmu kaku
hingga aku puas memandangimu tiap waktu
sekedar untukmu tahu rasa
aku yang lebih dulu kau belenggu

:pada mayapada di sela garis-garis bilik rindu
yang terlipat-lipat oleh ragu



------
Malang, 17072010
Andi M E Wirambara
READ MORE - Tentang Kartu dan Rindu

Piala (Cukup Belanda Saja)

padaku, ia perkenalkan dirinya
piala pencipta gempita
delapanbelas karat lapis emasnya
ditimbang harga buat kaget saku celana
meski nilai gengsinya lebih bisa
beri makan anak kelaparan sekian negara

padanya, aku bercerita
tentang belanda yang kata orang indonesia
penjajah bengis, tak pantas juara
apalagi pegang piala
adapula sontak teriak
"BUNG, INI PESTA SPORTIVITAS! PERANG? PEDULI KATAK!"

padaku, ia balas bercerita tentang gagah dirinya
sambil mengangkat tangannya tinggi
sambil menopang bundarnya bumi
sementara belanda, padanya terpana

namun hanya akan bisa
mencium bau ketiaknya saja
sedang lawan mereka
yang mengayunkannya di atas kepala

..kali ini pun..


---------
Malang, 11072010 23:15 WIB
READ MORE - Piala (Cukup Belanda Saja)

Fifa world cup 2010 (behind the scene)

Pagelaran pestapora piala dunia sepakbola 2010 ini memang tak jauh berbeda dengan piala dunia sebelum-sebelumnya. Meriah, penuh kejutan, penuh sukacita, duka, lara, haru, tangis, tawa, isak, pilu, rindu, jenuh, sendu, ceria, amarah, kecewa, licik, cerdas, lelaki tampan, gadis seksi, banci genit, bendera, dan vuvuzela.

Ya, sejauh turnamen dilaksanakan, memang lancar-lancar saja. Meski tidak, untuk kejadian di balik itu. Masalah besar melanda federasi tertinggi sepakbola dunia, yaitu FIFA. Sejumlah kejutan dan masalah baik kecil maupun besar sepanjang turnamen diduga adalah rekayasa FIFA.

“Ini fitnah! Fitnah kubur! Laknat!” geram Marco Hallei, detektif kepercayaan FIFA.

“Tenangkan dirimu, Marco. Ada apa?” Merry, istri sekaligus asisten Hallei menenangkan.

“Lihat ini!” Marco menyodorkan sebuah surat kabar. Merry membaca judulnya.

“WorLd k4p dU4 rIbu cEpuYuUh pNuh ReKaYasa F1F4”

“Itu maksudmu, sayang? Konyol! Apa yang kau kesalkan dari koran alay ini? Ini bukan koran resmi! Aku tak pernah melihat koran ini sebelumnya.” tanya Merry heran.

“Memang alay dan meragukan, Merry. Bahkan kau tahu koran itu tidak berlogo SNI...”

“SNI untuk helm, Marco.” Merry memotong.

“Ah, iya... maksudku koran ini bukan koran konsumsi publik. Tapi inilah letak permasalahan yang kita harus selesaikan! Koran ini bukan koran biasa.” Marco menjelaskan.

“Lalu?” tanya Merry heran.

“Entahlah, aku tidak yakin. Tapi kujelaskan nanti, kita hadiri dulu rapat oleh FIFA.” Jawab Marco.

Marco Hallei membereskan berkas dan benda-benda yang berserakan di meja kerjanya, termasuk pula koran alay tadi. Mengambil jas krem dan topi bulatnya, bersama Merry menuju tempat rapat dengan pengurus FIFA di markas federasi sepak bola Afrika.

Memang, belakangan banyak sekali menyebutkan FIFA merekayasa banyak kejadian pada piala dunia kali ini. Dari keputusan menunjuk Afrika Selatan sebagai tuan rumah, bola resmi Jabulani yang liar, terompet vuvuzela yang mengganggu telinga, hingga gugurnya finalis piala dunia 2006, Italia dan Perancis di putaran pertama. Banyak media mengungkit ada sesuatu yang disembunyikan FIFA.

Di sisi lain, FIFA membantah hal tersebut. Karena itu, mereka ingin lepas dari fitnah tersebut dengan meminta bantuan detektif kondang Marco Hallei, seorang cucu dari menantu suami anak bungsu sepupu tiga kali kakak kandung ipar pamannya Sherlock Holmes untuk menyelidiki hal ini.

Sepanjang perjalanan Marco yang memang sangat peka dan teliti memperhatikan apa saja yang ia lihat. Anak-anak Afrika yang bermain bola di tanah-tanah kering, warga miskin yang berkumpul memasak daging beramai-ramai karena di rumah mereka tidak memiliki dapur, pemuda berbaju lusuh yang mencari celah agar bisa masuk stadion untuk menonton pertandingan piala dunia, kucing kawin, hingga pemandangan turis yang sedang membeli vuvuzela. Hingga tibalah Marco dan Merry di lokasi rapat setelah menumpang gerobak warga lokal yang membawa tumpukan jerami.

****

Ruang rapat di markas federasi sepakbola Afrika itu sudah dipenuhi banyak orang. Nampak orang-orang dengan jas hitam elegan berlabel FIFA lalu lalang dan diantaranya sudah duduk di kursinya masing-masing mengelilingi meja bundar yang besar. Selain orang-orang FIFA, nampak juga perwakilan dari federasi sepakbola beberapa negara. Seperti dari federasi sepakbola Spanyol, Rusia, Brazil, hingga PSSI juga diikutkan dalam rapat ini. Kelihatannya memang menjadi masalah penting.

“Jadi mungkin kita bisa mulai rapat kita hari ini. Saya menyampaikan sebelumnya jangan menyinggung SARA, kata-kata kasar, melakukan SPAM, atau tidur, mengupil, dan lainnya selama rapat berlangsung.” Presiden FIFA membuka rapat.

Sementara di ruangan sebelahnya juga berlangsung rapat dari para pemain terkemuka dunia.
“Ada yang tahu dimana Cristiano Ronaldo dan Luis Fabiano?” tanya Lionel Messi.

“Ah, bukannya mereka bertanding hari ini? Brazil vs Portugal.” Jawab Buffon.

“Benar juga, padahal aku juga ingin mereka berbagi pendapat soal problem FIFA ini. Masalahnya kita juga kena imbas. Dikira kita adalah pemeran drama FIFA. Kalau begitu bagaimana pendapatmu, Rooney?” tanya Messi pada Rooney, wakil Inggris.

“Kupikir kita tanya saja pada wakil tim yang tidak ikut Piala Dunia, mungkin ada pandangan bagus dari mereka. Jadi dimohon kepada saudara Taufik Hidayat, wakil Indonesia bicara.” Rooney Menyarankan.

“Baik. Sebelumnya maaf, saya Bambang Pamungkas, bukan Taufik Hidayat. Saran dari saya, mungkin lebih baik kita serahkan semua pada FIFA yang rapat di ruang sebelah. Bagaimana?” jelas BePe.

“Boleh juga, saya setuju.” Jawab Messi, diikuti anggukan kepala oleh Klose, Torres, Van Persie, dan Mike Tyson.

****
“Jadi begini analisis saya, saudara sekalian. Saya, detektif Marco curiga dengan koran alay ini. Pertamax, apakah mungkin koran ini bisa muncul begitu saja dan hanya dijual satu saja di tiap negara yang mengikuti piala dunia? Tentu tidak, jadi saya pikir ini adalah sebuah kode rahasia yang dikirimkan dari sebuah organisasi yang disebarkan ke anggota mereka.” Marco menjelaskan.

“Instruksi! sedikit menyanggah. Saya setuju soal kode rahasia itu. Tapi soal koran alay ini, saya menemukan hal yang mengejutkan. Koran ini penuh rekayasa, tulisan-tulisan tak jelas itu sebenarnya adalah script dan kode HTML. Saya berhasil menyeleksinya meski sulit memang, banyak juga yang disisipkan di sini. Jadi jelas koran itu adalah rekayasa!” Seseorang menjelaskan.

“Merry, siapa dia?” Bisik Marco pada Merry.

“Wakil dari Indonesia, pakar telematika.” Jawab Merry.

“Maaf pak, kode script seperti apa yang anda maksud?” tanya Deen Roft, wakil Skotlandia.

“Jadi begini, teknologi yang dilakukan organisasi itu sangat canggih. Dengan menyisipkan koran alay di antara koran lainnya. Maka script akan menempel dan otomatis merubah judul-judul koran lainnya dengan judul yang ada di koran itu. Karena itu banyak media yang heran judul korannya berubah meski sudah dalam bentuk cetak.” Terang sang pakar.

BUMMMM..........!!!

Mendadak salah satu sisi dinding ruang rapat meledak dan menghasilkan lubang besar. Beberapa diantara peserta rapat pingsan, dari lubang itu masuk tiga orang pemuda bertopeng kain warna merah jambu yang hanya menyisakan lubang untuk mata mereka. Di bagian dada baju mereka terdapat tulisan “FUN”. Menyekap mulut Merry dan membawanya pergi.

“ MERRY!!!! FUN? Siapa kalian?” teriak Marco.

“Marco, tenangkan diri. Mereka adalah anggota FUN (Football Uni-Nations). Organisasi yang ingin menggulingkan FIFA.” Mendadak sekertaris FIFA menjelaskan sambil memegang pundak Marco.

“Oh, kupikir tidak ada yang tahu apa-apa tentang organisasi kami.”

Marco dan lainnya menoleh ke arah orang yang bicara. Sang Presiden FIFA! Bukan, perlahan ia menarik kulit wajahnya. Hingga memperlihatkan wajah asli orang tersebut. Pipi tembem tubuh kurus kering, rambut model emo di kepang dua.

“Hahahaa!! Presiden kalian aku bius di rumahnya, sekarang aku! Khryng Jyppy sudah saatnya menggulingkan FIFA dan menjadikan organisasi yang kupimpin, FUN!” seru Jyppy dengan angkuhnya.

“Sialan! Apa maumu hah? Kembalikan istriku! Dasar botak! Tidak diajarkankah orang tuamu bagaimana memberikan huruf vokal di nama jelekmu? Lagipula apa itu FUN? Nama kekanakan! Childish! Jelek! Katrok!” Marco sudah terlalu emosi.

“Sesukamu saja, aku pergi dulu! Aku sudah mencuri diam-diam berkas penting FIFA! Hahahha..!” ucap Jyppy lalu terbang dengan roket kecil di punggungnya.

“Segera hubungi FBI, Marco. Maaf, saya harus pulang ke negara saya untuk menuntaskan analisis tentang Ariel Peterporn, jadi tak bisa bantu.” Kata sang pakar.

“Peterporn? Baik, terima kasih sejauh ini. Saya akan hubungi semua untuk menangkap anggota FUN lain. Kupikir mereka pasti menyisipkan anggota mereka di federasi sepakbola tiap negara. Dan satu lagi, ini. Tolong beri saya kopian video yang anda maksud, saya belum nonton.” Balas Marco sambil menyodorkan flashdisk pada sang pakar.

Marco lari mengejar sambil mengikuti arah terbang Jyppy. Di langit, Jyppy terbang melewati stadion tempat berlangsungnya pertandingan Brazil vs Portugal. Sementara di lapangan. Julio Cesar sedang menendang bola, sayangnya bolanya justru tinggi melayang garis lurus ke atas dimana Jyppy sedang terbang diatasnya. Kontan, Jyppy yang tak waspada dagunya dihantam bola keras dari bawah. Jyppy terhuyung jatuh pelan ke bawah seperti layang-layang putus. Belum berhenti sampai situ, para pemain menanti di bawah mengira bola jatuh. Dan naas bagi Jyppy, belum sempat tersungkur di tanah ia langsung disambut tendangan keras dari kaki kanan Cristiano Ronaldo tepat di perut. Jyppy terpental ke tiang gawang dengan kerasnya, dan jatuh ke tanah. Sebagai penutup, Jyppy terinjak-injak oleh pemain yang sebelumnya berebutan bola di lapangan.

.....

“Benarkah? Jyppy semaput di lapangan? Kabar bagus! Aku juga baru dapat kabar dari PSSI, mereka menangkap satu penyusup dari FUN di Indonesia. Setelah mereka mengenakan jaket merah-putih, anggota itu justru pakai jaket pink dan di keningnya ada stempel FUN. Kabari federasi sepakbola negara lain!” ujar Marco setelah panitia pertandingan Brazil vs Portugal menelponnya. Kabarnya pula, pertandingan tersebut hanya ditunda 2 menit.

“Sekarang tinggal istriku...” gumam Marco.

****

Terik menyapu titik-titik kerikil yang berpeluh, meski udara dingin turut membelainya. Siang hari di musim dingin Afrika Selatan tidak menggoyahkan Marco untuk mencari dimana istrinya disekap.

"Tum paasse aye..Yun Muskurayee, Tum nena jane kya..kuch kuch hota hai.."

Handphone Marco berbunyi, rupanya ada pesan masuk: “KAMI MENEMUKAN TEMPAT PERSEMBUNYIAN ANGGOTA FUN, ADA DI KOLONG JEMBATAN ARAH UTARA STADION SOCCER CITY DI JOHANESBURG. SALAM OLAHRAGA! By. CIA”

Senyum Marco mengembang. Satu lagi kabar dari CIA yang membantunya. Tanpa ragu ia ke lokasi yang dimaksud.

Setibanya di sana, ia disambut oleh sekitar tujuh pemuda kekar yang memakai bandana warna merah muda bertuliskan “FUN”. Sementara di saah satu tiang jembatan, Merry tengah diikat.

“Lepaskan Merry..” Marco mulai bicara, sementara seluruh pemuda itu bergerak pelan ke arah Marco.

“Jangan dekat-dekat! Aku bawa pistol!” Marco waspada, sementara pemuda itu makin mendekat.

PLAKK!!

Salah satu dari mereka dengan cepat menampar tangan Marco yang memegang pistol. Marco panik, sementara pemuda yang paling besar mencengkram kuat pundak Marco.

“Apa-apaan kau! Lepaskan!” Marco berontak.

“Tenang bro, tadi FBI sudah ke sini dan memberi kabar kalau bos kami sudah takluk. Kami ingin berterima kasih saja.” Ujar pemuda kekar itu dengan suara yang berat.

“Maksudmu?” tanya Marco heran.

“Begini sebenarnya....” pemuda itu dan seluruh pemuda lainnya melepas kacamata hitam mereka, menarik nafas, lalu bicara.

“Gini lo.... eke sama kami-kami ini sebenernya dari FUG boo... Federation Uni-Gender.. kami biasanya nangkring di stadion-stadion tempatnye piala dunia. Jujur deh kami-kami suenenng yang ganteng-ganteng dateng.. ada Messi, Ronaldo, Higuain, hadu.. hadu... cuman ye.. si Jyppy rese itu janjiin, kalo bantu dia, kami-kami bakal punya kuasa atas stadion, mangkanye dia ganti nama kami jadi FUN. Lumayan kan kami masuk ke ruang ganti buat nyubitin pipi Buffon pas ganti baju. Sekseh boo.. makanya maaf ya istri situ kami tawan. Kami udah mau bebasin kok, cuman situ dateng duluan. Kami bisa bebas.. dadah..!! tengkyu..” pemuda itu menjelaskan dengan gaya banci, tangan melambai-lambai lalu pergi.

Marco menghampiri Merry dan mereka saling berpeluk haru. Sementara para agen dan orang-orang FIFA yang mengikuti rapat sudah berdiri mengelilingi mereka sambil bertepuk tangan. Diantara mereka ada yang menangis haru, kejadian yang begitu mengharukan.

Setelah kejadian tersebut nama FIFA pun baik kembali. Publik kembali menyalahkan Domenech dan Lippi atas gugurnya Perancis dan Italia yang mereka pimpin. Jadwal tetap berjalan lancar. Sementara hampir seluruh publik dunia tidak ada yang tahu, tentang kejadian di balik euforia piala dunia. Kisah yang bahkan tak sempat tercium media.

READ MORE - Fifa world cup 2010 (behind the scene)

Surat Cinta Dari Namamu

Di celah-celah gerimis, biasanya kucari sisa-sisa senyummu yang
Entah ikut hadir, entah turut menitik pelan ke mataku. Hingga lenyap
Fungsinya sebagai indera yang sekedar mampu melihat nyata. Dan kini,
Iring bayang layung rautmu mengalihnya menjadi mata yang mampu menghadir
Lentera siluet-siluet rasa, yang telah lebih dahulu masuk ke pori tanah seolah
Isyarat agar aku senanstiasa menyubur hati, untukmu. Mungkin, kau bisa saja bosan dan 
Anggap aku terlalu bodoh untuk merengkuhmu. Seperti gerimis yang kian deras dan

Aku tetap menaiki balkon rumah lalu menjemur asa. Berharap matahari segera
Nampakkan senyumnya menyibak mendung harapku padamu. Atau seperti kapal kertas yang
Oleng dan berputar di tempat, sebab telah kena riak katak yang melompat ke kolam.
Gusar, tiada kepastian. Kepastian hingga kapan, pun kepastian atas tanyaku, akankah? selalu
Resah saja yang kupertanyakan. Kita mungkin terlalu banyak memiliki sekat 
Akan segala yang membuatku sesak. Sekedar hendak mencintaimu, sekedar itu.

Rumpun kata-kataku mungkin bakal sulit habis, jika kupakaikan untuk mengoret
Impian yang kuselip dalam bait-bait. Puisi. Tentang kau tentu dengan ungkap tertahan
Angkuh egoku yang begitu malumalu mengukir kata "cinta", di alas pasir yang menyisa jejak
Nuansamu. Dan maaf, aku tak peduli sudah dengan cemburu yang bergantian kubuang pada
Ilalang tajam. Sebab hanya bunga-bunga yang pantas kusemat di hati. Kau.



READ MORE - Surat Cinta Dari Namamu

ABANG SATE

Langit malam yang bersih, bulan sempurna dan sepoi sejuk, malam yang tengah mendesir di sebuah komplek perumahan. Sebuah komplek yang banyak terdapat kost untuk remaja putri. Nampak hening, dan teriakan khas yang begitu dikenal, memecahnya sunyi tersebut.

“Teee... te..sate...sate...sate.” Seperti biasa, tukang sate melewati satu per satu rumah di komplek ini.

“Bang..! sate bang..!” 

Dua gadis yang sama-sama memakai hot pants memanggil tukang sate tersebut, sang tukang sate menghentikan gerobak satenya, turun dari sadel, dan menyunggingkan senyum. Senyum ramah kepada pelanggan mungkin. Dan gadis-gadis barusan menghampiri, dan tiga gadis lainnya baru keluar dari pintu rumah dengan membawa beberapa piring.

“Abang kemana aja? Kok lama ngga lewat sini?” tanya Nova, dengan kaos ketat biru bergambar doraemon dan celana pendek sepaha kuningnya.

“Abang ditungguin ya...jadi malu..” goda si abang sate.

“Ye..ge-er deh! Udah bang, sate ayamnya ya bang.. abang cakep..” balas goda Tiara.

Kata “Abang cakep” yang dilontar Tiara, mungkin bukanlah suatu rayu-canda-goda biasa. Tukang sate yang satu ini sudah menjadi langganan mereka, di komplek perumahan itu. Tak sekedar satenya yang lezat, tetapi sang penjual, masih begitu muda, bersih, dan gagah.

Maklum saja, dia tukang sate super langka di Indonesia, tukang sate blasteran Indonesia-Jerman! Nampak tak logis memang, tapi kenyataannya begitu. Ayahnya berkebangsaan Jerman dan ibunya asli Indonesia, mereka bukan orang susah tetapi dia ingin sekali mencari “sesuatu” di luar kehidupannya sebagai orang berglimang harta, maka ia coba menjadi tukang sate. Ia menentang ayahnya yang menyarankan melanjutkan studi di negeri sang ayah. Dia ingin bebas dan berat hati ayahnya menyetujui. Dengan syarat setoran hasil jualan sate harus jalan. Fakta ini hampir tidak ada yang tahu. 

Raut gantengnya memang memikat, blasterannya pun nampak dari hidung mancungnya, bola mata cokelat, dan bodi yang macho. Pada KTP nya tertulis nama lengkapnya : BAANS SCHULTDEEN. Meski orang-orang memanggilnya : BANG UDIN.

“Berapa bang??” tanya Nova setelah Bang Udin selesai menyuguhkan pesanan Nova dan kawan-kawannya.

“Satu aja...” jawab Udin

“Satu? Apanya yang satu??” tanya Nova heran

“Cukup...satu nomor HP kamu..” jawab Udin usil.

“Ye...abang... ya udah deh... catet nih...” Nova membolehkan.

“Ciiieeeeee.....” Sily, Tiara, Olive, Yenny. Teman kost Nova, menyoraki.

“Cieeee.......” mendadak ibu kost mereka keluar dan menyoraki

“Cieeee.....” mendadak para tetangga keluar dan ikut menyoraki, yang dari jendela pun.

“Cieeeeee...” satpam yang lewat juga tak ketinggalan menyoraki.

Baik Nova maupun Udin sama-sama tidak peduli dan hanya tersipu saja. Setelah memastikan nomor handphone Nova sudah ter-save di Blackberry nya, Udin langsung membuka Facebooknya dan menulis status : “ Malam yang indah...”. setelah itu dia menutup facebooknya lagi dan berbincang sejenak dengan Nova. Sementara di Facebook Udin sudah masuk beberapa notificication:
Sate Bang Bendot menyukai status anda
Nurdin The Satayman menyukai status anda
Soleh “Bakso Arema”Rohim menyukai status anda
Julia Perez menyukai status anda

Tuntas dengan urusannya dengan gadis-gadis kost yang menyejuk matanya, ia berpamitan dan mulai mengenjot gerobaknya seraya sesekali matanya melirik-melirik nakal pada celana-celana mini yang dipakai para gadis dan kembali mengeluarkan teriakan khasnya. “ Ha....paha..paha....paha...”

****

Pukul sebelas malam. Entah pengaruh sate atau ketampanan Udin, sate Udin selalu laku dan cepat habis. Kini ia tengah di rumahnya bersantai di ranjang dengan handphone di telinganya. Dia sedang menelepon Nova.

“Beneran ih... ga ada kali abang sate cute kaya abang.. muka blasteran imut-imut gitu.” Puji Nova sambil memainkan ujung rambutnya.

“Duh si neng Nova bisa aja... neng tuh yang cakep imut-imut... sate abang aja jadi malu-malu..” goda Udin sambil memainkan bulu ketiaknya.

“Hus! Abang...sate apaan sih... cape deh bang... oh iya bang, kok jadi tukang sate? Abang kan tampang-tampang model. “ tanya Nova.

“Males... ntar ga bisa deket ama neng lagi... ini namanya takdir. Lagian kapan lagi bisa kenal sama neng baik hati yang ga peduli abang ini tukang sate mau telponan gini..” ujar Udin sambil mengorek-ngorek lubang hidungnya.

“Hahaha.. ngomong apa sih bang.. aku ga beda-bedain kok.. lagian aku ngerasa abang punya sesuatu yang tersembunyi.. udah ganteng.. baik.. kayanya ga sampe situ aja deh..” Nova balas memuji.

“Bener-bener deh si neng ngegemesin... abang jadi sakit perut nih ah.. dipujiin melulu.. jadi kangen deh pengen datengin neng langsung.” kembali Udin merayu, kali ini sambil berjongkok di toilet duduknya.

“Hahaha.. cacing perut abang manja tuh dipuji dikit langsung salting...tuut...tuut... tuutt... “

Mendadak telepon terputus, Udin mencoba menghubungi kembali.. tapi tidak bisa tersambung. Ia langsung mengecek pulsanya dengan keheranan, padahal baru saja ia isi pulsanya sejuta, tentu tidak akan habis saat itu juga. Ia pun mencoba berpikir positif dan menanyakannya besok saja.

....

Esok paginya, sambil menunggu para koki, pemotong daging dan pengolah bumbu terbaiknya di rumahnya mengurusi macam-macam persiapan untuk ia berjualan malam nanti, Udin jogging melewati komplek dan rumah kos Nova. Pagarnya masih digembok rapi, kendaraan milik penghuni kost tersebut juga masih utuh. Ada ibu kost mereka tengah menyapu di teras.

“Pagi bu... si Novanya ada.?“ tanya Udin ramah.

“Eh bang Udin, ga tau ya... biasanya jam segini dia sama yang lainnya udah cerewet di depan TV.. masih tidur mungkin ya... atau saya cek dulu ya...” jawab si ibu.

“Ga usah repot-repot bu..saya cuma nanya aja kok...” tolak Udin.

“Ah...ga pa pa..” kata ibu lagi sambil melenggang masuk ke dalam rumah.

......

KYAAAAAA....!!!!!!!

Mendadak dari dalam rumah ada teriakan dari si ibu kost. Udin terkejut, ia penasaran dan ingin masuk. Tapi pagar masih tergembok, Udin berpikir untuk melompati pagar. Tapi ia takut dicurigai maling dan tertangkap kamera CCTV yang diletakkan di pohon-pohon dan tiang-tiang listrik sekitar komplek.

“Ada apa bu???!!! Ada apa???? “ Udin memilih berteriak.

Terdengar suara langkah lari dari dalam. Ibu kost keluar sambil tergopoh-gopoh.

“Ada apa?” tanya Udin kembali ketika si ibu sudah di luar.

“Hosh...hosh...ini....” si ibu menjulurkan koran kepada Udin dari sela pagar smbil mengatur nafas.
“Apaaa!!?? ” Udin terkejut setelah membacanya.
“Biadab! Apa maksudnya dibunuh lagi 3 penduduk Palestina di perairan Gaza! Setan! Kemarin Mava Marmira! Terkutuk! Terkutuk!” lanjutnya geram.

“Eng..bang Udin, bukan yang itu... tapi itu..” kata ibu kost menunjuk kertas buram yang dilipat dan terselip di koran itu.

Udin membaca judulnya “ SURAT ANCAMAN DAN PEMBERITAHUAN KEPADA YANG PUNYA HUBUNGAN DALAM MISI PENCULIKAN KALI INI BAIK KORBAN MAUPUN PELAKU. Nomor surat 12/ANC/399/AF-SEL_FIFA/2010”.

Udin terhenyak, jelas terjadi sesuatu kepada Nova dan teman-temannya. Ia melanjutkan membaca isi surat tersebut.

“ aLlo0wW..
C0wrY y4acH aQw dy3m2 nyUliiK aW3wwe di k00s2n inNiEch.. bEcoZ @quh gii prlU... muufP yua4AaAA...

CalAm cHy4nk:
PnCuliiiiiikkkk >.<
tAndTe NinI mUutdh UchUld luTTHuu. ”

...

Udin emosi, seseorang beratas nama Tandte Nini Muutdh Uchuld Lutthuu menculik Nova dan teman-temannya. Ia meremas geram surat pemberitahuan itu.

“Bu.. lapor polisi! Saya bakal nyari Nova dan yang lain!” pinta Udin kepada si ibu.

“I..iya...”

****

Matahari beranjak dan tenggelam di ufuk barat, digantikan oleh senja yang perlahan menjadi malam. Sementara Udin setengah mati mencari di mana Nova disekap. Ia sudah mencoba melacak dengan menciumkan bau kertas surat ancaman ke hidung anjing peliharaannya, Hachiko. Tapi justru anjing itu batuk-batuk dan tak lama pingsan.

Dia kini sibuk di depan komputer mencari keberadaan Nova, di google, wikipedia, yahoo!, bahkan ia sempat mencarinya dengan membuat post di FJB (Forum Jual Beli) Kaskus. Tapi nihil.
...

Udin menemukan titik terang setelah ada kabar dari intel bahwa mereka melihat orang yang mirip dengan Nova di sebuah rumah di daerah terpencil. Tapi tidak bisa menguntit lebih jauh karena di sekitar rumah seperti ada ilmu hitam yang melindungi sehingga para intel terpental ketika ingin mendekatinya lebih lagi.

Mendengar info tersebut, Udin segera menuju lokasi yang dimaksud. Berbekal ratusan tusuk sate instan yang tinggal diseduh air panas 3 menit matang, berbekal doa restu dari ibunya, dari sang ayah di Jerman, ibu kost, satpam komplek, Himpunan Pedagang Sate Internasional ( World Organitation of Satay Fighter ).

Sesampai di lokasi setelah perjalanan panjang, tibalah ia di rumah tersebut. Tepat di depan pintu ia berdoa, sejenak, ia langsung mendobrak pintu. Tapi hening, di dalam biasa saja, dan tak ada seorang pun. Matanya lalu tertuju pada tulisan “PINTU RAHASIA” di sebuah dinding yang bergambar tanda panah menuju ke bawah. Dengan hati-hati ia masuk ke sana.

Betapa terkejutnya dia setelah sampai di sebuah ruangan seluas gedung serbaguna. Jauh di depannya seorang wanita posisi membelakanginya mengaduk sesuatu di dalam kuali raksasa. Di kanan-kiri adalah penjara dan kerangkeng dengan terali warna merah jambu. Di dalamnnya terkurung gadis-gadis cantik-manis-imut. Menyadari keberadaannya, salah satu gadis berteriak.. “Cowokk..!!! tolong kami! “

Gadis lain menoleh, dan ikut berteriak-teriak... dan senyum Udin mengembangb melihat salah satu yang berteriak adalah Nova, tepat di sebelah Nikita Willy.
“Bang Udin..!! Tolonngg!!” teriak Nova.

Keributan tersebut tentu membuat wanita tadi menoleh, wajahnya nampak muda, tapi sepertinya sudah tua, tapi ada muda-mudanya, meski kelihatannya dia tua, walaupun dia terlihat begitu muda. Dia terkejut dan ekspresi wajahnya tidak bersahabat.

“Huh! Kenapa aku tidak kepikiran untuk pasang kemenyan Anti-Cowok Bule?” ucap wanita itu tak lama.

“Hei kau! Apakah kamu si tante Nini Mut Lutu-Lutu itu?” tanya Udin.

“Ya! Bule ganteng, panggil aku tante Nini.. sedang apa kamu di sini? Mengganggu ritualku saja!” jawabnya.

“Dasar kau! Bebaskan Nova dan lainnya! Apa maumu sebenarnya?” Udin mulai emosi.

“Hahahaa.! Tujuanku? Lihatlah gadis-gadis manis itu. Malam ini aku akan membotak-kan rambut mereka.. dengan mewarisi keahlian kedukunan dan pesugihan dari kakekku, aku akan meminum air celupan rambut itu sebagai ramuan agar aku bisa mencapai ke-imut-an sempurna dan abadi... hahahhahhaa!! Akan kubuat Donghae, Justin Bieber, Robert Pattison jatuh cinta padaku!” jelas tante Nini dengan wajah bengis.

“Sialan! Cuma untuk itukah? Tahukah mereka memang muda! Susah payah merawat diri demi kecantikan mereka!” kata Udin lagi.

“Susah payah? Hahahaa! Merekalah yang menyusahkan! Orang tua susah payah cari uang dan mereka menghamburkannya di salon-salon mahal! Perawatan kecantikan rutin, pemborosan pembelian produk kecantikan dengan bahan merkuri yang sebenarnya berbahaya, baju-baju, dan lainnya!” balas Tante Nini.

“Kuno kau tante! Kuno! Tak pernah muda kah kau? Tak pernah jatuh cinta kah kau? Tak pernah gaul kah kau? Jelas saja wanita manapun juga secara naluri akan merawat diri mereka. Ah..atau jangan-jangan sebelum ini kamu adalah laki-laki?” sindir Udin.

Mendengar itu seketika Tante Nini geram dan tersinggung.

“Hei kau bule! Kamu harus kubereskan di sini, meskipun ganteng! Katakan apa tujuanmu ke sini sebagai kata-kata terakhirmu! Menggoda aku?” tantang Tante Nini.

“Huh..maaf saja.. aku ke sini ingin menyelamatkan ORANG YANG AKU CINTA! PUAS? ORANG YANG AKU Ce-I-En-Te-A !” seru Udin lantang.

Tante Nini lalu mengambil keris dan mengkomat-kamit mulutnya. Sementara Udin mengambil kuda-kuda. Riuh gadis di dalam penjara tersebut menyemangati. Ada yang mengangkat karton dengan tulisan BARCELONISTAS, bersahut-sahutan dengan mereka yang mengibarkan kain bertuliskan VIVA MADRID, ada pula yang bertuliskan PRO-KPK dan di penjara seberangnya bertulis ANTI-KPK. Di penjara tepat di sisi kiri Udin berdiri, spanduk panjang membentang : 1.000.000 FACEBOOKERS MENDUKUNG UDIN MENGALAHKAN TANTE NINI.

Suasana makin panas, tante Nini dan Udin saling mendekati, siap saling serang dengan hati-hati. Tante Nini menembakkan sinar laser hijau dari kerisnya, persis seperti di tivi-tivi. Udin menghindar, dengan cepat menangkap tangan tante Nini. 
BUFFF!!
Tante Nini menghilang di tengah asap, dan mendadak sudah di belakang Udin.

“Rasakan ini bule gaannnteeeng...!!!” tante Nini melayangkan kerisnya ke arah Udin.

SYUUTTT! 
Mendadak serangan Tante Nini terhenti. Rupanya sebuah tusuk sate sudah menancap di perutnya. Udin diuntungkan dengan postur tinggi dan lengan yang panjang sehingga jangkauannya lebih jauh untuk menghunuskan tusuk sate. Tante Nini tidak bisa bergerak. Melihat tante Nini tak berkutik, Udin kembali menancapkan tusuk satenya ke tangan kanan, telapak kaki kiri, dan leher tante Nini.

“Si..sial...apa-apaan ini?” ucap tante Nini terbata-bata.

“Itu teknik tusuk sateku, tante. Akupuntur tusuk sate.” Jawab Udin sambil menatap tante Nini yang terkapar tak berdaya.

Para gadis yang ditahan bersorak-sorai, terlebih ketika Udin membuka satu-persatu kerangkeng mereka. Di antaranya berkumpul merencanakan konvoi, sementara tante Nini yang ilmu hitamnya sudah dilumpuhkan dalam keadaan terlentang diangkut polisi. Dan Udin sendiri, kini tengah bertatapan mesra dengan Nova, Nova mengucap terima kasih dan mereka berpelukan.

“Cieeeeeee......” orang-orang di sana dan para polisi menyoraki mereka.

****
Ayah Udin kembali dari Jerman, dan Udin memperkenalkan Nova padanya. Nova begitu terkejut ternyata Udin adalah tukang sate elegan yang orang tuanya kaya-raya. 

Ya, Udin pun menemukan jodohnya kali ini. Dia sudah menemukan “yang dicari” dengan berjualan sate. Ia pun melamar Nova, gadis cantik yang dari samping mirip Sandra Dewi, dari belakang mirip Megan Fox, dari depan tak terlalu istimewa dan akhirnya mereka menikah dengan tema resepsi “sate”.



Pesan moral :
- Sate ayam lebih murah dari sate kambing
- Bumbu kecap dan bumbu kacang sama-sama lezat
- Di Indonesia ada sate Madura, sate Padang, dan bermacam sate lainnya
- Sate enak dinikmati dengan nasi maupun lontong
- Bicara sate bikin lapar.



TAMAT







READ MORE - ABANG SATE